Wednesday, October 31, 2007

Bisnis Di Balik Usaha Utama


Seorang teman yang membuka jasa Warnet di sebuah kota di Jateng, tiba-tiba membuka tarif Rp 2000/jam. Tentu saja harga tersebut mencengangkan. Meski dengan jumlah PC yang secara bisnis masuk akal, karena jumlahnya 20 unit. Semua kondisi PC-nya laik untuk browsing internet dengan satuan kecepatan kilobyte per second (KBps) yang gede.


Apakah itu tidak rugi? Kapan investasi akan balik? Belum lagi dengan biaya telepon ke Telkom, berapa margin yang didapat?Teman tersebut dengan sedikit tertawa, bilang bisa saja untung. Buktinya sudah setahun bisa jalan bagus, dan tentu untung. "Ya. Namanya usaha, dikit-dikit margin, kita lakukan saja. Namanya juga pengusaha kecil," katanya menyela seolah merendah.


Sehari mampir di sana, saya menemukan beberapa hal. Di warnet itu, sebelahnya ada warung kecil, menyediakan makanan dan minuman ringan dan makanan sedikit berat: teh botol, kacang, rujak manis, kue-kue, hingga nasi bungkus.


Nah, harganya untuk makanan ini tidak bisa dibilang standard, karena agak sedikit mahal dibanding dengan warung lain. Selidik punya selidik, ternyata warung itu juga masih miliknya. Dan keuntungan warung justru jauh lebih besar ketimbang warnetnya.Singkat cerita, warnet itu tidak mengambil untung berarti tapi banyak ditutup dari warung makanan.


Warnet adalah semacam tempat duduk-duduk orang (kastemer/konsumen), yang setiap pengaksesnya ditawari minuman dan makanan secara aktif oleh orang warung/penjaga warnet. Pokoknya yang main internet, tidak perlu keluar ruangan bila lapar dan haus.


Jadi warnet ini hanya sarana mengumpulkan pembeli agar mau jajan ke warungnya. Dan ternyata kemudian, busines-plan warnet dan warung jadi satu, sehingga akan ketemu total revenue dan margin keuntungan yang lumayan.


Dengan contoh di atas, jelas bahwa sebenarnya warnet tersebut memiliki hidden agenda dari yang sebenarnya diharapkan, yakni pemasukan (revenue) dari warung makan yang sengaja dibuatnya.Bisnis tersembunyi tak selamanya bermodel seperti itu. Tapi bisa bersembunyi di balik sebuah program yang kelihatannya berbaik hati.


Kalau kembali ke masa silam, di Telkom kalau kita mengingat masa lampau untuk sebuah sambungan bisa sampai 5 juta lebih. Tapi kemudian ketika Dirut Telkom Cacuk Sudaryanto (alm) mengeluarkan paket pasang telepon murah, banyak yang tertarik. Di balik itu, harapannya adalah para pengguna telepon mengeluarkan pulsa lebih banyak. Dan bila telponnya tidur, langsung diputus sehingga orang akan aktif menggunakannya.


Begitu banyak telepon terpasang, harga pulsa sedikit demi sedikit dinaikkan. Sehingga yang sudah terpasang mau tidak mau harus mengeluarkan rupiah untuk teleponnya agar tetap nyala tidak ditutup.Tatkala iPod mengeluarkan banyak produk pemutar MP3 dengan berbagai varian, mulai dari shuffle, mini, 20 giga, sampai iPod foto yang 60 giga, tampak laris manis.


Tapi di balik itu, muncul bisnis turunan yang diluar bisnis alat pemutar musik itu sendiri, yakni mulai dari saku iPod, pot untuk iPod itu sendiri, sampai pot untuk disingkronkan dengan soundsytem yang canggih.Ketika membicarakan harga alat pemutar MP3-nya sendiri, orang dengan sangat hapal dan hati-hati menentukan kapan harus beli.


Tapi ketika sudah memiliki alat pemutar lagu itu, orang tidak sadar bahwa biaya ikutannya banyak sekali berupa asesori pendukung yang demikian banyaknya, tak ketinggalan download lagu-lagunya.Waralaba makanan cepat saji, barangkali untuk saat ini harga makanannya terasa murah meriah dibanding dengan cafe-cafe yang ada. Bahkan dengan makanan di warung pinggir jalan, harganya bersaing sekali. Padahal di situ kita bisa menikmati makanan dan minuman hangat plus penyejuk udara yang adem. Jangan kaget bila banyak pemilik merek waralaba sudah dapat dana puluhan juta rupiah dari harga franchise-nya.


Banyak sebenarnya bisnis-bisnis yang menguntungkan tapi berada tersembunyi di balik bisnis aslinya. Jangan-jangan ada bisnis sekolah, yang ujung-ujungnya dijadikan pasar untuk berjualan alat-alat olahraga, alat laboratorium, atau mungkin pasar laptop. Semuanya sah-sah saja. Anda pun juga bisa memberikan contoh atau bahkan sudah melakukannya?


Cuma, kalau sudah begitu, mana yang sebenarnya usaha utama dan usaha sampingan, temukan sendiri jawabnya.



Salam Funtastticcc



Sumber : SAP - Detik


Agus Ali S.

"Menuju 11 Digit"

Work Hard, Pray Hard, Play Hard

No comments: