Sunday, November 11, 2007

Ayo, Kita Dukung dan Sukseskan TDA Finance- Syaratnya Ikut Mastermind


Pak Roni diblognya menulis seperti ini :


Action Members,

Alhamdulillah, saat halal bi halal kemarin tim TDA Finance telahmempresentasikan apa dan bagaimananya TDA Finance itu.

Langkah awal ini harus kita syukur dan kita dukung bersama, setelah hampir 2 tahun dinantikan, akhirnya TDA telah memiliki lembaga keuangan yang berdiri sendiri dan berbadan hukum.

Terima kasih kepada para pendiri dan pengurus TDA Finance atas dukungan dan upanya selama ini. Saya harapkan tim ini akan terus berupaya memberikan pelayanan yang terbaik bagi para member TDA.

Kemarin, saya ditelepon oleh Pak Valentino Dinsi. Beliau ingin bekerja sama dengan TDA Finance, khususnya dalam penyaluran dana yang diperolehnya dari Baitul Maal Muamalat (BMM). Tawaran ini tentu kita sambut gembira dan dengan rasa syukur mendalam.

Artinya, TDAFinance yang masih bayi ini sudah mendapat respek dari pihak lain. Kepada tim TDA Finance, saya ucapkan selamat bekerja. Semoga suksesdan diberi kemudahan oleh Allah SWT.

Selanjutnya sudah pasti di blognya Pak Roni :http://roniyuzirman.blogspot.com/

Kemudian saya juga baca di milis bahwa sedang digairahkannya untuk pembentukan mastermind di seluruh wilayah ya di Jakarta, Bogor,Bandung, Yogya, Solo, Semarang, Surabaya, dll....

lantas hubungannyan apa antara Mastermind dengan TDA Finance??.

Begini frennn... seperti yang sudah dijelaskan di HBH kemarin olehTim TDA Finance Pak Asep Triono, Pak Andry, dll bahwa saat ini TDA sudah punya TDA Finance sebagai lembaga pembiayaan temen2 TDA dengan beberapa persyaratan HAK dan KEWAJIBAN tentunya,


versi saya sendiri yaitu :

KEWAJIBAN
1. Menjadi anggota komunitas TDA
2. Menjadi anggota TDA Finance (Anggota Koperasi) dengan membayarkanIuran Tetap dan Iuran Bulanan
3. Menjadi anggota Mastermind

HAK
1. Di prioritaskan dapat mengikuti semua kegiatan TDA
2. Mendapatkan Dana Pinjaman untuk Usaha
3. Mendapatkan Fee Hasil Usahanah

ini yang kasat mata aja looo belum yang lainnya untuk lebih jelasnya bisa link ke http://www.tdafinance.blogspot.com/, okekan ??

Jelaskan hubungannya antara Grup Mastermind dengan TDA Finance ??yang bercita-cita ingin membantu temen-temen di komunitas TDA lainnya.


Salam Funtasticc..


Agus Ali

"Menuju 11 Digit"
Work Hard, Pray Hard & Play Hard

Notes : HAK dan KEWAJIBAN jadi anggota finance diatas adalah versisaya, nah kalo mau tau versi tim TDA Finance bisa di lihat diwebsitenya atau kontak ke Asep Trionohttp://aseptriono.blogspot.com/

400 Education Fokus ke Bisnis Pendidikan


Melihat makin tingginya minat para profesional yang ingin meningkatkan skill, knowledge dan informasi untuk kepentingan perusahaan membuat kami sebagai eksekutif di 400 education berfikir untuk lebih fokus meningkatkan bisnis pendidikan yang sudah dirintis sejak tahun 2003 ini.

Saat ini kami baru fokus ke Training & Education untuk para profesional di bidang IT, dan melulu soal teknis Information Tecknologi. Baik itu skill profesional tentang AS/400 yang merupakan CORE BANKING atau System Informasi Dasar yang digunakan untuk perbankan (bank) seperti transaksi keluar dan masuknya duit, informasi database pelanggan, dll.

Atau begini ... para member TDA ini pasti pernah ke Bank kan ? pasti pernah ke ATM ? baik itu mau nabung atau masukin duit ke Bank atau ingin mengambil dana, lewat teler atau ATM langsung. Dibalik itu semua sistem yang digunakan untuk transaksi keluar dan masuknya duit adalah menggunakan Bahasa RPG dengan bantuan mesin AS/400 untuk mendukungnya.

Nah kalo ke Bank terus bawa buku tabungan pasti pernah kan nge-print buku tabungan, ya ... cara nge-print itu menggunakan Bahasa RPG dengan dukungan mesin2 AS/400,.. oke udah jelaskan bisnis kita fokus disitu...?? Wah ini mah bisnis BLUE OCEAN,... ?? yaa memang ini bisnis Blue Ocean banget,.. di Indonesia bisa dihitung jari hanya di satu tangan saja yang menekuni bisnis ini, salah satunya adalah 400 Education atau PT. Mitra Global Sejahtera.

Bukan hanya itu saja kamipun juga masuk ke bisnis Training & Education untuk IT Management, dan saya juga Pak Iim ikut jadi Trainer untuk yang satu ini. Kami didukung oleh tenaga2 profesional yang aktif di organisasi seperti PMI (Project Management Institute), IBM, IT Audit/CISA dsbnya.

Reguler dan In house training adalah program kami untuk masuk ke customer corporate (perusahaan2 besar), soal demand nggak kalah lah dengan bisnis lainnya, walaupun Blue Ocean tetapi customer kami Red Ocean karena kami membantu perusahaan2 besar khususnya para karyawannya yang dijatahi training setahun bisa mencapai tiga kali. Bisa dibanyangin kan kalo semua jatah training setahun itu kita yangt ambil, hitungan setahunnya = 3x jumlah karyawan x jumlah perusahaan =..... hitung sendiri deh ..

Saat ini kami hendak berkolaborasi dengan PT. Transforma, sebuah perusahaan konsultan HR yang besar yang dimiliki oleh alumni2 dari ASTRA group. Mereka tertarik dengan kita karena pengalaman kita mengelola training, seminar dll untuk perusahaan corporate, seperti Banking (hampir seluruh bank di Indonesia adalah customer kita), Indosat, Telkom, Asuransi, PT Badak (LNG), dll.

Dengan kolaborasi ini, selain kami fokus di bidang IT Skill (As/400, IT management, IT Developer , IT Database) kami juga bisa mengembangkan bisnis kami menjadi training provider untuk HR (Human Resource) , ISO Training dan General Management Training.

Tidak hanya itu di lokasi kami sekarang sehari-hari yaitu di Kemayoran, ada peluang untuk mengembangkan bisnis pendidikan terutama untuk anak-anak mulai dari Pre-school, Computer Kids, Mathematika, sampai Bahasa Inggris. Di lokasi ini juga kami akan membuka kelas malam untuk para profesional IT yang meningkatkan skill dan knowledge nya dibidangnya ada juga sih kelas akhir pekan, nah yang ini kerjasama dengan beberapa temen di Komunitas TDA yang backgroundnya IT.

Selain itu Insya Allah kami punya beberapa proyek ideal kami yang harus kami jalankan juga yaitu kelas Enterprener, dan Insya Allah kami bisa membantu temen-temen komunitas TDA untuk segera merubah mindset, membuka bisnis, menjaganya dan meningkatkan bisnisnya. Kalo yang ini Coach-nya sudah pasti dedengkot TDA yang sudah terbukti keberhasilannya dalam berbisnis seperti Pak Roni, Bu Yulia, Cak Eko, Pak Valentino Dinsi, dll

Yaa.. kami yakin sekali dengan hasil kolaborasi ini nantinya 400 Education akan menjadi PION yang penting di dunia training & education di Indonesia, kami terus berusaha keras untuk menjadi yang terbaik di bidang ini. Kami terbuka untuk siapa-saja temen-temen komunitas TDA yang ingin bekerja sama, baik sebagai tenaga pengajar, lokasi usaha didaerah atau pengembangan usaha lain yang masih berhubungan.


Salam Funtasticc...


Agus Ali, S MM.PMP
"Menuju 11 Digit"
Work Hard, Pray Hard & Play Hard
Notes : Untuk profesional yang ingin training atau ingin mengetahui list training di 400Education bisa mengirimkan email ke yuli.andriana@400education.com atau sofi@400education.com, atau telp ke 65865922, 65865923 dengan Sofi atau Yuli.

Thursday, November 1, 2007

Big Family : Jaga Kekompakan dan Semangat


Saya ingin berbagi cerita tentang hari raya idul fitri kemarin, bertemu dengan kakak2 dan adik saya, kumpul dengan Ibu tercinta diawali permohonan maaf, makan ketupat dan saling cerita serta senda gurau menceritakan pengalaman lebaran masa kecil.


Ya itulah gambaran dari keluarga besar saya, kami 6 bersaudara memang cukup kompak bila dikatakan begitu, sempet juga sih ada beda pendapat tapi secara kekeluargaan kita bisa selesaikan. Selain kita selalu bersemangat saling membantu satu sama lainnya, buktinya waktu saya perlu dana untuk bisnis saya bisa pinjem dari kakak2 saya atau sebaliknya, dan saya sering kasih info2 berharga tentang proyek2 menguntungkan kepada kakak saya no.2 yang punya modal besar.

Yah kita ber 6 saudara memang begitu, saya anak ke 5, punya 3 kakak laki-laki dan 1 kakak perempuan juga 1 adik perempuan, kita semua sudah bekerja, masing-masing punya anak 3 orang kecuali adik saya anaknya hanya 1. Kita terbiasa mandiri memang, walaupun background orang tua kami adalah pegawai tetapi saya dan kakak paling tua memilih untuk wirausaha, namun tetep sebelumnya kita juga pernah jadi pegawai.

Dulu jarang sekali kita bertemu sekeluarga sekaligus, tetapi akhir-akhir semenjak kakak kedua saya di tugaskan di Jakarta, kami selalu kumpul sekedar silaturahmi, makan2 atau lainnya.

Setelah lebaran kemarin kami keluarga besar sempat menginap di Puncak, ini adalah pertama kali keluarga besar saya pergi bersama-sama dan menginap bersama dalam satu Vila. Jujur saya sangat terharu sekali dengan keadaan ini, saya selalu berdoa dan bersikap positif tentang keluarga besar saya untuk selalu dijaga kekompakan dan semangat nya.

Kami punya sejarah yang buruk tentang keluarga, karena keluarga kami adalah keluarga dengan orang tua PISAH. Saya umur 5 tahun saat bapak saya PISAH dengan ibu saya, saya masih kecil sekali saat itu dan belum mengerti apa-apa.

Setelah PISAH itulah kejadian-demi-kejadian mulai ada, mulai dari punya Ibu Tiri yang kejam, persis sama seperti cerita-cerita di sinetron, kenakalan2 kami dan tekanan-tekanan lainnya membuat kita jadi cepat dewasa dan alhamdulillah keluarga saya, kakak2 dan adik saya semua lulusan sarjana, ada yang S2 seperti saya dan kakak ke 2 dan ke 4 saya.

Padahal bila kita tidak kuat2 iman, jalan menuju kesesatan didepan mata, bisa jadi saya punya anak diluar nikah, kena narkoba, pergaulan bebas, dll, namun semua itu kita lalui dengan baik dan sampai sekarang keluarga kami bisa dikatakan sudah meraih apa yang di cita-citakan yaitu punya keluarga, rumah, dan kendaraan.

Bukan hanya itu saat ini kekompakan keluarga kami sangat tinggi, saling membantu, saling menghargai dan menghormati dan saling menyayangi tentunya.


Salam Funtasticcc



Agus Ali

"Menuju 11 Digit"
Work Hard, Pray Hard, Play Hard

Wednesday, October 31, 2007

Bisnis Di Balik Usaha Utama


Seorang teman yang membuka jasa Warnet di sebuah kota di Jateng, tiba-tiba membuka tarif Rp 2000/jam. Tentu saja harga tersebut mencengangkan. Meski dengan jumlah PC yang secara bisnis masuk akal, karena jumlahnya 20 unit. Semua kondisi PC-nya laik untuk browsing internet dengan satuan kecepatan kilobyte per second (KBps) yang gede.


Apakah itu tidak rugi? Kapan investasi akan balik? Belum lagi dengan biaya telepon ke Telkom, berapa margin yang didapat?Teman tersebut dengan sedikit tertawa, bilang bisa saja untung. Buktinya sudah setahun bisa jalan bagus, dan tentu untung. "Ya. Namanya usaha, dikit-dikit margin, kita lakukan saja. Namanya juga pengusaha kecil," katanya menyela seolah merendah.


Sehari mampir di sana, saya menemukan beberapa hal. Di warnet itu, sebelahnya ada warung kecil, menyediakan makanan dan minuman ringan dan makanan sedikit berat: teh botol, kacang, rujak manis, kue-kue, hingga nasi bungkus.


Nah, harganya untuk makanan ini tidak bisa dibilang standard, karena agak sedikit mahal dibanding dengan warung lain. Selidik punya selidik, ternyata warung itu juga masih miliknya. Dan keuntungan warung justru jauh lebih besar ketimbang warnetnya.Singkat cerita, warnet itu tidak mengambil untung berarti tapi banyak ditutup dari warung makanan.


Warnet adalah semacam tempat duduk-duduk orang (kastemer/konsumen), yang setiap pengaksesnya ditawari minuman dan makanan secara aktif oleh orang warung/penjaga warnet. Pokoknya yang main internet, tidak perlu keluar ruangan bila lapar dan haus.


Jadi warnet ini hanya sarana mengumpulkan pembeli agar mau jajan ke warungnya. Dan ternyata kemudian, busines-plan warnet dan warung jadi satu, sehingga akan ketemu total revenue dan margin keuntungan yang lumayan.


Dengan contoh di atas, jelas bahwa sebenarnya warnet tersebut memiliki hidden agenda dari yang sebenarnya diharapkan, yakni pemasukan (revenue) dari warung makan yang sengaja dibuatnya.Bisnis tersembunyi tak selamanya bermodel seperti itu. Tapi bisa bersembunyi di balik sebuah program yang kelihatannya berbaik hati.


Kalau kembali ke masa silam, di Telkom kalau kita mengingat masa lampau untuk sebuah sambungan bisa sampai 5 juta lebih. Tapi kemudian ketika Dirut Telkom Cacuk Sudaryanto (alm) mengeluarkan paket pasang telepon murah, banyak yang tertarik. Di balik itu, harapannya adalah para pengguna telepon mengeluarkan pulsa lebih banyak. Dan bila telponnya tidur, langsung diputus sehingga orang akan aktif menggunakannya.


Begitu banyak telepon terpasang, harga pulsa sedikit demi sedikit dinaikkan. Sehingga yang sudah terpasang mau tidak mau harus mengeluarkan rupiah untuk teleponnya agar tetap nyala tidak ditutup.Tatkala iPod mengeluarkan banyak produk pemutar MP3 dengan berbagai varian, mulai dari shuffle, mini, 20 giga, sampai iPod foto yang 60 giga, tampak laris manis.


Tapi di balik itu, muncul bisnis turunan yang diluar bisnis alat pemutar musik itu sendiri, yakni mulai dari saku iPod, pot untuk iPod itu sendiri, sampai pot untuk disingkronkan dengan soundsytem yang canggih.Ketika membicarakan harga alat pemutar MP3-nya sendiri, orang dengan sangat hapal dan hati-hati menentukan kapan harus beli.


Tapi ketika sudah memiliki alat pemutar lagu itu, orang tidak sadar bahwa biaya ikutannya banyak sekali berupa asesori pendukung yang demikian banyaknya, tak ketinggalan download lagu-lagunya.Waralaba makanan cepat saji, barangkali untuk saat ini harga makanannya terasa murah meriah dibanding dengan cafe-cafe yang ada. Bahkan dengan makanan di warung pinggir jalan, harganya bersaing sekali. Padahal di situ kita bisa menikmati makanan dan minuman hangat plus penyejuk udara yang adem. Jangan kaget bila banyak pemilik merek waralaba sudah dapat dana puluhan juta rupiah dari harga franchise-nya.


Banyak sebenarnya bisnis-bisnis yang menguntungkan tapi berada tersembunyi di balik bisnis aslinya. Jangan-jangan ada bisnis sekolah, yang ujung-ujungnya dijadikan pasar untuk berjualan alat-alat olahraga, alat laboratorium, atau mungkin pasar laptop. Semuanya sah-sah saja. Anda pun juga bisa memberikan contoh atau bahkan sudah melakukannya?


Cuma, kalau sudah begitu, mana yang sebenarnya usaha utama dan usaha sampingan, temukan sendiri jawabnya.



Salam Funtastticcc



Sumber : SAP - Detik


Agus Ali S.

"Menuju 11 Digit"

Work Hard, Pray Hard, Play Hard

Magang Brand Ala Pixar







Penyanyi Reza Artamevia yang suaranya bagus, dulu pernah menjadi backing vokal dari grup pop kenamaan Dewa. Setelah "magang" diketahui bahwa kualitas Reza bagus dan kemudian berani merilis album sendiri.

Begitu pula kabarnya Piyu yang sekarang menjadi pentolan grup band Padi juga pernah menjadi pemain additional di grupnya Ahmad Dhani. Kemudian Piyu mendirikan Padi dan melejit kasetnya laris.

Pola yang dilakukan mereka, barangkali adalah seperti "magang" ke sebuah ikon besar yang di kemudian hari tampil sendiri dengan lebih berani dan meraih sukses.

Loh kok contohnya penyanyi semua? Padahal kan kita mau bicarakan bisnis, brand, dan lain-lain. Okelah, kita melompat ke brand bisnis. Tentu sekarang, kalau Anda ditanya film animasi yang banyak beredar saat ini, diproduksi oleh siapa? Dengan cepat akan menyebut nama Pixar.

Perusahaan bisnis multimedia yang membuat film-film animasi top seperti Finding Nemo, Monster Inc, Bugs, dan lain-lain pada empat tahun lalu tidak dikenal. Pixar juga belum tahu bagaimana mekanisme menjual film yang benar dan bargaining position diantara broker-broker film dunia masih belum diperhitungkan.

Bisa-bisa kalau dia langsung masuk ke dunia film, dengan segala carut marutnya, langsung memasarkannya sendiri, akan menemui banyak kendala. Steve Jobs sebagai bos Pixar meluncur dengan deferensiasi yang jelas: spesialis animasi. Membuat film animasi yang benar-benar nyata. Rapi, bersih, seolah gambar-gambar buatannya benar-benar bernyawa. Hidup.

Dia mengambil pola "magang" dulu ke perusahaan bisnis film yang segmennya tak jauh dengan film-film karyanya, yakni Disney yang dikenal raja kartun, Pixar mulai perjalanan bisnisnya. Jadilah merger yang startegis antara Pixar dan Disney. Bila selama ini Disney kebanyakan main di tv, Pixar justru mengandalkan jualannya untuk layar lebar.

Setiap film animasi yang muncul di bioskop atau dvd Anda, selalu muncul nama Pixar. Mencolok, di awal, sebelum film utama tayang. Seringkali tulisan Pixar menyala itu menjadikan brand Pixar melekat. Seolah tertinggal di pelupuk mata kita. Tahunya film animasi bukan lagi Disney tapi Pixar.

Tatkala proses brandingisasi Pixar sudah melekat di mind masyarakat, saatnya Jobs sebagai nakhoda Pixar melakukan renegoisasi dengan bos Disney Michael Eisner tentang pola bagi hasil pendapatan (sharing revenue) yang lebih menguntungkan Pixar. Permintaan naik dari 10% dari peredaran dan lebih dari 50% hasil lain diluar film itu sendiri, mengagetkan Disney yang masih merasa bahwa Pixar pasti masih butuh Disney.

Ternyata tidak. Jobs dan Eisner tidak menemukan kesepakatan. Karenanya, Pixar yang merasa cukup magangnya di Disney -- pun berani tampil sendiri menjual karya-karyanya yang makin mewabah dan ditunggu orang. Kerjasama antara Disney dan Pixar akan diakhiri ditandai dengan dirilisnya film Cars.

Ini film terakhir yang diedarkan Disney buatan tim kreatif Steve Jobs.Apakah Pixar akan mengedarkan sendiri film-film berikutnya. Tampaknya Jobs tidak mau mencampuradukkan kreativitas (production) dengan marketing (delivery, distribution). Dia tidak mau mengutak-atik Pixar yang sudah established.

Sebagai risiko dari perceraianya dengan Disney, Jobs pun membuat anak perusahaan sendiri yang mengurusi distribusi. Maka lahirlah Emeryville, perusahaan yang khusus mengurusi distribusi Pixar yang tak lain anak perusahaan Pixar sendiri.

Nah proses ini bisa dilakukan oleh rekan-rekan pebisnis lainnya, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap orang yang kita jadikan tempat magang tentunya dan murni untuk bisnis.


Salam Funtastic



Agus Ali S.
"Menuju 11 Digit"
Work Hard, Pray Hard, Play Hard

Sunday, October 21, 2007

Dampingi Klien Bak Keluarga


Bill Clinton tampil di depan staff penting Cisco di hotel megah MGM Grand Hotel & Casino di Las Vegas. CEO Cisco John Chamber pun seolah terjewer kupingnya dan mendampingi klien di saat butuh pertolongan adalah hal utama dan penting.

Baru-baru ini perusahaan sistem jaringan internet terkemuka Cisco mengadakan internal gathering internasionalnya di Las Vegas, Amerika Serikat. Mem-book hampir seluruh kamar MGM Grand Hotel & Casino, tak ketinggalkan memanfaatkan Arena MGM yang biasa dipakai Mike Tyson manggung.

John Chamber, sang CEO sengaja mengundang Bill Clinton sebagai tamu kehormatan. Clinton disuruh “manggung” di ring tinju seperti biasanya Tyson atau Don King. Bukan untuk adu jotos tapi memberikan qoute penting. Clinton saat jadi presiden dinilai memiliki reputasi yang bagus dalam hal ekonomi global.

Prestasi menguatkan ekonomi AS, membangkitkan IT yang sempat dihajar bullbe dotcom, dan beberapa prestasi besar lainnya, ternyata bagi Clinton bukan prestasi utama dan sesuatu yang menjadi pikiran utama. Lantas? “My doughter!” katanya.

Chelsea, putrinya saat itu justru sedang memerlukan bantuan, dalam kesulitan, ketika usianya menanjak remaja.Lantas Clinton cerita panjang lebar. Ada kesulitan yang sedang dialami seorang khas remaja yang harus didampingi. Dan, itu semua membuatnya puas, semua jadi terlampaui.

Dari yang disampaikan secara sederhana, Chamber pun kemudian menarik titik fokus utama tentang pendampingan terhadap orang yang sedang membutuhkan, jadikan seperti family.

Chamber pun kemudian di depan seluruh karyawan – utamanya sales – minta jangan tinggalkan “keluarga” yang sedang perlu bantuan, dampingi arahkan, hingga mampu bangkit dan berjalan kembali dengan normal bahkan kalau perlu bisa sehat/fit.

Di saat pertarungan bisnis kian hebat di berbagai lini, seperti Cisco saat ini sedang menghadapi guncangan hebat. Bukan hanya berpikir musuh di depan yang sudah kelihatan seperti Alcatel, Juniper, Northel yang tangible. Tapi tiba-tiba ada pendatang baru yang seolah “coming from behind” dan menikam semacam Huawei yang datang dengan jurus murah banget.

Mungkin Cisco sudah dicari orang, tapi para pencari barang boleh dan sah saja mengadunya dalam “event bidding”. Ketika bidding sudah masuk tahap adu harga, pesaing main jurus murah dan tawaran yang tidak masuk akal, undur diri bukan pilihan yang salah. Selain karena harga prokok produksi yang tinggi dari sisi material ditambah kualitas staff yang tak mungkin dibayar murah, harus dilakukan upaya penyelematan.

Survival adalah naluri yang harus ditempuh. Sebab, kalau setiap saat sering undur diri, bisa menghancurkan diri.Kutipan dari Clinton seolah menjewer kuping Chamber dan kemudian dipertanyakan kepada dirinya sendiri, juga kepada seluruh staff: benarkah kita telah meninggalkan ‘keluarga kita, family kita’? Maka gerakan yang sedang dilakukan kemudian adalah mengetuk kembali pelanggan-pelanggannya selama ini, yang sudah menjadi bagian dari keluarga network Cisco yang menemui kesulitan atau sedang susah, untuk dibantu lagi, didampingi lagi.

Bukan hanya di bisnis seperti Cisco tapi di banyak di jenis usaha lainnya, terutama jasa seperti konsultan, sistem integrator, bagaimana mendatangi pelanggan adalah hal penting. Sering kita terjebak untuk main “hit and run” yang hanya datang saat ada proyek tapi ketika klien ada kesulitan dan sudah di luar jatuh tempo project, kita lupakan.

Ayoman, persahabatan dalam duka dan gembira akan melanggengkan kerjasama yang lebih konstruktif sehingga maju bersama.

Sumber : Sapto Anggoro - Detik Publishing


Agus Ali S.
"Menuju 11 Digit"

Orang Di Balik Layar


Tatkala Dr. Kai Fu Lee dan Marc Lucovsky hengkang dari Microsoft menuju ke raksasa mesin pencari Google, dunia IT geger. Apalagi orang Microsoft yang dipercaya Bill Gates sebagai CEO, Steve Ballmer.

Sumpah serapah dan kata-kata busuk "F**ng Google" keluar dari mulut Balmer. Prosesnya sampai bertele-tele dan berakhir di pengadilan. Dan akhirnya, Dr Kai Fu Lee pun pada pertengahan September tahun lalu dikukuhkan oleh Pengadilan Washington untuk bekerja di Google dan menempati posnya di R&D Google di Cina.

Bukankah Microsoft selama ini identik dengan Bill Gates? Mengapa mesti berang ketika Kai Fu Lee dan Lucovsky hengkang? Siapa Kai Fu Lee dan Lucovsky? Barangkali, banyak orang mungkin tidak berhasrat untuk mengundangnya menjadi pembicara di seminar-seminar besar bila dia tidak dibajak Google.

Tapi, melihat kemarahan besar dari Gates dan Ballmer, menjadikan keberadaan keduanya kelihatan penting. Selama ini, memang orang bisa salah tangkap, bahwa hanya Gates yang jagoan di Microsoft. Padahal, Lucovsky dan Kai Fu Lee adalah orang di balik layar yang membangun banyak produk yang karya-karyanya sudah (kita) nikmati setiap hari, dan dikapitalisasikan oleh Gates sedemikian besar.

Lucovsky adalah salah satu kunci sukses yang mengarsiteki Windows. Dia sudah disebut veterannya Microsoft karena 16 tahun di sana dan sebagai "distinguished engineer". Hengkangnya Kai Fuu Lee membuat Microsoft makin marah dan berakhir di pengadilan karena menurut Ballmer, Lee diambil Google untuk membuat bisnis/produk yang sama dengan Microsoft.

Benar apa tidak tuduhan Microsoft, yang pasti Google mengkonsentrasikan Lee di Cina dengan banyak tugas besar: Rekruitmen, membangun pusat R&D di Cina, dan government relations.***

Cerita lain. Suatu kali perusahaan IT jaringan Cisco router juga terkejut dengan kepindahan eksekutifnya, Paulette Altmaier ke Juniper Networks. Tak kurang CEO Cisco John Chamber pun meradang atas kepergian perempuan yang canggih aplikasi network asal India ini.

Kecuali itu, dia pindah bukan ke tempat yang lain, tapi ke Juniper yang secara adu kepala (head to head) merupakan rival utama Cisco. Sembilan tahun di Cisco ternyata tak berarti Paulette Altmaier tidak tergoda. Kai Fu Lee, Lucovsky, juga Paulette adalah sedikit dari orang-orang di balik layar yang memberikan kontribusi besar pada bisnisnya.

Namun, mereka memang tidak muncul di permukaan dan memberikan andil luar biasa. Ketidakmunculan mereka, bisa jadi, karena sering mereka seolah menjadi orang belakang (back end) belaka. Kecuali itu, sering juga kita terjebak dengan stigma kesuksesan pada sebuah symbol personal. Misalnya Cisco adalah John Chamber saja, Microsoft adalah Bill Gates saja, atau Amazon adalah Bezos dan sebagainya. Apakah misalnya Kacang Garuda hanya identik dengan Sudhamek AWS, ataukah Air Asia adalah cuma kerja Tony Fernandez, juga MarkPlus itu sekadar Hermawan Kertajaya semata, tentu tidak.

Bahwa para tokoh-tokoh pemimpin bisnis ini membuat sistem yang begitu indah dan kuat adalah tidak dipungkiri. Tapi ada orang-orang di balik layar yang memberikan supply informasi, technologi, ide, dan sebagainya hingga terwujud sebuah produk dahsyat harus diakui juga keberadaannya.

Salah menempatkan tokoh kunci di balik layar yang - mungkin - selama ini kelihatan tenang, bisa berdampak buruk bila saingan-saingan bisnis Anda tiba-tiba nekat mengambil mereka.

Sumber : A. Sapto Anggoro - Detik Publishing


Agus Ali S.
'Menuju 11 Digit"